
Berhala
Sabda-Mu Abadi | 1Yoh. 5:21
”Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.”
Demikianlah pesan terakhir penulis kepada pembaca suratnya. Menarik diperhatikan diksi yang dipakai: ”Waspadalah terhadap segala berhala.” Mengapa mesti waspada? Mengapa pula segala berhala?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”waspada” adalah kata sifat yang berarti berhati-hati dan berjaga-jaga; siap siaga. Sepertinya penulis paham bahwa kebanyakan orang mengartikan berhala sebagai patung dewa atau sesuatu yang didewakan untuk disembah dan dipuja. Agaknya ia juga mafhum, kebanyakan orang Kristen tak mungkin lagi menyembah patung dan karena itu mereka meremehkannya.
Padahal yang dimaksud dengan berhala bisa lebih luas dari itu. Segala sesuatu yang menggantikan posisi Allah dalam diri kita adalah berhala. Dan karena itu kita mesti waspada.
Pekerjaan tentu penting. Namun, ketika membuat kita menjauh dari Allah, karena menganggapnya lebih penting dari Allah, pekerjaan itu telah menjadi berhala dalam diri kita. Keluarga tentu penting. Akan tetapi, ketika keluarga malah membuat kita menjauh dari Allah, keluarga telah menjadi berhala dalam diri kita. Hobi itu baik bisa membuat kita lebih manusiawi. Tetapi, ketika membuat kita menjauh dari Allah, hobi itu telah menjadi berhala. Ya, hal-hal baik pun, yang membuat kita menjauh dari Allah, telah menjadi berhala dalam diri kita. Dan karena itu, kita mesti mewaspadainya.
Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Anak-anakku, jauhkanlah dirimu dari berhala-berhala!” Itu berarti kita mesti menjauhkan diri dari kecenderungan menjadikan sesuatu berhala. Bahkan, pendapat yang kita miliki bisa menjadi berhala ketika kita menganggapnya paling benar dan menganggap pendapat lainnya pasti salah. Karena itu, sekali lagi, waspadalah.
Yoel M. Indrasmoro | Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media Anda
Silakan klik tautan berikut ini untuk mendengarkan siniar Sabda-Mu Abadi:
n.b.: Dukung pelayanan digital kami via BCA-3423568450-Tangan Terbuka Media!