Di Getsemani
Dalam Perjanjian Baru dalam Bahasa Indonesia Sederhana tertera: ”Duduklah di sini. Aku mau ke sana untuk berdoa.”
Dalam Perjanjian Baru dalam Bahasa Indonesia Sederhana tertera: ”Duduklah di sini. Aku mau ke sana untuk berdoa.”
Sang Guru hendak menyatakan bahwa peristiwa penyangkalan itu terjadi masih di malam yang sama. Ya, tinggal sesaat lagi.
”Inilah makanan dan minuman yang sungguh-sungguh berbeda.” Tubuh-Nya dan darah-Nya sungguh menyelamatkan dan bersifat kekal.
Tidak banyak pribadi yang menyisihkan waktu, tenaga, dan pemikiran untuk berdedikasi dalam pelayanan media sosial, apalagi di tengah era validasi yang mementingkan ”like”, ”love”, ataupun pujian. Padahal melayani Tuhan bukan soal panggung, tetapi soal hati yang tetap taat saat tidak ada yang melihat.
Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu berkata, “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya, “Engkau telah mengatakannya.”
Persahabatan masa kecil masih menjadi kenangan indahku sampai detik ini. Entah mengapa kepalaku masih dipenuhi oleh kehangatan persahabatan masa kecil yang tenang, hangat, dan sederhana.
Yesus sudah menyiapkan smakan Paskah, bahkan Ia telah menyiapkan saat kematian-Nya.
”Pikiran melahirkan tindakan, tindakan melahirkan kebiasaan, kebiasaan melahirkan karakter, dan karakter menciptakan nasib.”
Bisa jadi kita merasa bisa menguasai uang, tetapi yang sangat mungkin terjadi kitalah yang dikuasainya, ketika itu iman sudah tak penting lagi.
Di banyak budaya modern kita diajarkan untuk waspada terhadap orang asing—dan itu tidak salah. Namun, dalam kebudayaan Batak, ada pelajaran lain yang tak kalah penting: kemampuan menemukan pertalian di tengah perbedaan.