
Sabda-Mu Abadi | 16 November 2025 | Mat. 18:21-35
âKemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, âTuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?â Yesus berkata kepadanya, âBukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuhââ (Mat. 18:21-22).
Simon terpana. Bagi dia, angka tujuh sudah terlalu banyak. Yesus menuntut lebih banyak: 70 kali lipat dari yang diajukan Simon. Yesus pun lalu menceritakan sebuah perumpamaan.
Sikap hamba dalam perumpamaan itu memang rada kurang ajar. Raja pun bingung dibuatnyaâbahkan menyebutnya jahatâsembari bertanya, âBukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?â
Di mata raja, hamba itu jahat karena tak tahu diri, tak tahu diuntung, dan tak tahu balas budi! Ia hanya menuntut haknya atas kawannya. Ia lupaâmungkin melupakanâsemua kewajibannya terhadap raja telah dihapuskan! Mengapa hamba itu melakukannya?
Pertama, ia tak pernah merasa diampuni! Orang yang tak pernah merasa menerima ampun mustahil memberi ampun. Apa yang hendak diberi jika tak pernah punya ampun?
Kedua, ia berprinsip utang harus dibayar. Ia enggak mau rugi. Tak beda dengan prinsip Yahudi: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Ia ingin orang lain merasakan sakit yang pernah dideritanya. Dalam hati macam begini balas dendam menjadi prioritas.
Ketiga, ia tidak mau meningkatkan kedudukan kawannya. Tindakan raja itu telah membuat kedudukan antara raja dan dirinya setara. Tak ada lagi utang. Tindakannya menjebloskan rekannya ke penjara menjadikan rekannya tetap berkedudukan di bawah dia.
Mengampuni berarti memulihkan hubungan. Mengampuni berarti tiada lagi orang yang berutang kepada kita. Mengampuni berarti setaralah kedudukan kita dengan orang tersebut.
Yoel M. Indrasmoro | Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media Anda
Berikut tautan untuk mendengarkan siniar Sabda-Mu Abadi:
n.b.: Dukung pelayanan digital kami via BCA-3423568450-Tangan Terbuka Media!