Kata-kata
Supaya kata-kata yang keluar sungguh-sungguh baik, yakni menguatkan dan tidak melemahkan orang lain, menghargai dan tidak menghina orang lain.
Supaya kata-kata yang keluar sungguh-sungguh baik, yakni menguatkan dan tidak melemahkan orang lain, menghargai dan tidak menghina orang lain.
”Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.” (Luk. 18:10). Demikianlah Sang Guru dari Nazaret memulai perumpamaannya. Perbedaan keduanya amat mencolok. Orang Farisi itu—meski dalam hati—membeberkan segala capaiannya. Ia dengan Read more
Bagi Yesus, adat isitiadat itu seharusnya tidak mengabaikan kemanusiaan manusia. Yang lebih penting lagi, janganlah membuat manusia melawan Allah.
Mereka meminta izin agar diperkenankan menyentuh ujung jubah-Nya saja. Bagi mereka itu sudah cukup.
Jika kita telah mendapatkan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, berarti kita telah mendapatkan arti hidup kita sesungguhnya sebagai manusia yang kekal, dan jika kita telah mendapatkan yang paling utama, maka yang lainnya merupakan tambahan saja, dan tidak akan memengaruhi apa pun hasil yang telah kita peroleh.
Pandanglah Yesus! Jika kita meyakini bahwa Dia adalah Tuhan, tak ada sesuatu pun yang luput dari pengamatan-Nya dan segala sesuatu ada di dalam kuasa-Nya.
Para murid berdalih mereka hanya punya lima roti dan dua ikan. Namun, sejatinya itu juga milik Allah. Mereka hanya orang-orang yang dititipi Allah.
Ungkapan ”manusia tempatnya salah” atau ”namanya manusia, salah itu biasa” sempat mampir di benak saya seakan memaklumkan kelalaian saya sekaligus tempat persembunyian saat berbuat salah.
Herodes menganggap diri mahakuasa sehingga mampu meluluskan semua permintaan.
Orang-orang di Nazaret itu tidak rela orang yang mereka kenal selama ini telah menjadi guru yang sungguh-sungguh berbeda.