
Sabda-Mu Abadi | 1Yoh. 3:19-20
”Demikianlah kita ketahui bahwa kita berasal dari kebenaran dan boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, bilamana hati kita menuduh kita. Sebab, Allah lebih besar daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.”
Apakah arti semuanya ini, khususnya ungkapan ”bilamana hati kita menuduh kita”? Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Demikianlah caranya kita mengetahui bahwa kita tergolong anak-anak Allah yang benar, dan hati kita dapat tenang di hadapan Allah. Kita tahu, bahwa kalau kita disalahkan oleh hati kita, pengetahuan Allah lebih besar dari pengetahuan hati kita, dan bahwa Ia tahu segala-galanya.”
Yang tidak boleh kita lupa, hati kita tidak bebas dari kecenderungan berbuat dosa. Berkait kehidupan orang percaya, sikap hati biasanya menyalahkan kita. Kita tak mungkin hidup benar di hadapan Allah.
Sejatinya, ini yang tak boleh kita lupa juga, kita dibenarkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati. Tindakan pembenaran Allah inilah yang menjadikan kita tergolong dalam anak-anak Allah yang benar. Inilah yang mestinya menenangkan diri kita.
Nah, ketika hati kita mulai menyalahkan kita bahwa kita tidak mungkin berbuat benar, kita boleh menetapkan diri bahwa kita telah dibenarkan Allah. Itulah modal hidup dalam kebenaran Allah. Dengan bermodalkan pembenaran Allah ini, kita dipanggil untuk terus mengupayakan hidup benar.
Mudah? Pasti tidak! Mustahil? Tentu juga tidak!
Yoel M. Indrasmoro | Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media Anda!
Silakan klik tautan berikut ini untuk mendengarkan siniar Sabda-Mu Abadi:
n.b.: Dukung pelayanan digital kami via BCA-3423568450-Tangan Terbuka Media!