Membuka Hati
”Tuhan ada di sana. Ia menyertai kita. Baik di kala suka, apalagi di kala duka.” Apa pun keberadaan kita sekarang ini, apa pun yang kita rasakan, percayalah bahwa Allah ada.
”Tuhan ada di sana. Ia menyertai kita. Baik di kala suka, apalagi di kala duka.” Apa pun keberadaan kita sekarang ini, apa pun yang kita rasakan, percayalah bahwa Allah ada.
Hari ini ada yang berbeda dari ibadah Minggu yang biasa saya hadiri. Bukan saja karena pembawa firman menggunakan Bahasa Inggris, sehingga saya harus fokus menangkap kalimat yang diucapkan; tetapi karena ia mengibaratkan hal memberi sedekah, hal berdoa, dan berpuasa di dalam Matius 6:1-3, sama seperti Air Conditioning (AC). Pertama kali Read more…
Yesus melihat. Guru dari Nazaret itu tidak menutup mata. Mata-Nya senantiasa terbuka. Keterbukaan mata itulah yang membuat Dia mampu memahami keadaan orang banyak itu.
Ada yang mati di tengah pesta itu. Itulah peristiwa yang dicatat penulis Injil Markus. Pestanya memang bukan pesta kematian. Pestanya adalah pesta ulang tahun. Yang berulang tahun pun bukan sembarang orang. Ini adalah pesta ulang tahun seorang raja.
”Dari mana orang ini memperoleh hal-hal ini? Hikmat apakah yang diberikan kepada-Nya? Bagaimanakah mujizat-mujizat yang demikian dapat diadakan oleh tangan-Nya?” (Mrk. 6:2-3).
”Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia.” (Mrk. 5:21). Demikianlah catatan penulis Injil Markus. Yesus, Sang Guru dari Nazaret, sedang naik daun. Di mana dan kapan pun Ia menjadi pusat perhatian.
”Mengapa kamu ketakutan? Belumkah kamu percaya?” (Mrk. 4:40). Ya, mengapa para murid begitu takut dan tidak percaya?
”Sungguh, di hadapan TUHAN berdiri yang diurapi-Nya” (1 Sam. 16:6). Demikianlah komentar Samuel ketika pertama kali melihat Eliab.
”Ia kerasukan Beelzebul” (Mrk. 3:22). Demikianlah tuduhan para ahli Taurat yang datang dari Yerusalem. Mereka menganggap Yesus kerasukan Setan. Bahkan mereka, dengan wewenang yang dimiliki, menyatakan bahwa Yesus sudah tidak waras lagi. Pernyataan-pernyataan itulah yang sampai ke telinga keluarga besar Yesus.
Kisah pemanggilan Samuel dimulai dengan sebuah kenyataan pahit: ”Pada masa itu firman Tuhan jarang, penglihatan pun langka” (1Sam. 3:1). Mengapa pahit? Sebab, tidak ada komunikasi antara Allah dan umat-Nya.