Ragi Orang Farisi dan Saduki
Keilahian Yesus seharusnya membuat mereka berani memercayakan diri mereka kepada-Nya.
Keilahian Yesus seharusnya membuat mereka berani memercayakan diri mereka kepada-Nya.
Yesus memberikan tanda Nabi Yunus! Kematian dan kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia adalah Anak Allah.
Kita, dipanggil pula untuk meneladan orang banyak dalam peristiwa penyembuhan itu.
Perempuan Kanaan tidak mutung saat Yesus menghinanya. Bahkan penghinaan itu dipandangnya sebagai akses untuk mendapatkan belas kasihan Sang Anak Daud.
Tidak ada seorang pun yang dapat mengangkat dirinya menjadi milik Allah. Allah sendirilah yang memilihnya.
Supaya kata-kata yang keluar sungguh-sungguh baik, yakni menguatkan dan tidak melemahkan orang lain, menghargai dan tidak menghina orang lain.
”Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.” (Luk. 18:10). Demikianlah Sang Guru dari Nazaret memulai perumpamaannya. Perbedaan keduanya amat mencolok. Orang Farisi itu—meski dalam hati—membeberkan segala capaiannya. Ia dengan bangga berdoa: ”Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku Read more
Bagi Yesus, adat isitiadat itu seharusnya tidak mengabaikan kemanusiaan manusia. Yang lebih penting lagi, janganlah membuat manusia melawan Allah.
Mereka meminta izin agar diperkenankan menyentuh ujung jubah-Nya saja. Bagi mereka itu sudah cukup.