Jangan Setengah-setengah!
Ternyata para murid salah tafsir. Petrus mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, namun itu dipahami dengan cara berbeda.
Ternyata para murid salah tafsir. Petrus mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, namun itu dipahami dengan cara berbeda.
Dalam doa syafaat, baiklah kita juga melayangkaan pikiran dan perasaan kita kepada orang tersebut dan ikut merasakan apa yang dia rasakan.
Para murid sejatinya adalah saksi dari kedua peristiwa mukjizat itu. Semestinya dengan kedua peristiwa mukjizat itu tak ada alasan bagi mereka untuk merasa bahwa Yesus bicara soal kekurangan roti.
Yesus tidak mau memberi tanda. Bagi-Nya keberadaan diri sebagai Pribadi yang datang dari Allah tidak ditentukan oleh kemampuan membuat mukjizat.
Setelah itu, Yesus mengambilnya, mengucapkan syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada para murid. Dan mukjizat pun terjadi.
Yesus tetap menolong si penderita bisu-tuli. Ia tidak pilih kasih. Semua orang berharga di mata-Nya. Kasih-Nya tersedia bagi semua orang.
Baik remah-remah maupun roti utuh, toh namanya tetap roti, yang penting bukan besar atau kecilnya anugerah, tetapi anugerah Allah itu sendiri.
Yesus berbeda. Guru dari Nazaret itu sengaja menjejakkan kaki-Nya di Tirus. Dia tak takut tercemar, bahkan berkarya di ”wilayah kafir”.