Kisah Orang-orang Bertalenta

Apakah yang ada di benak Barak ketika Debora menyuruhnya untuk memimpin sepuluh ribu bani Naftali dan Zebulon melawan Sisera? Mungkin satu kata ini: gentar. Sisera bukan sembarang panglima. Dia memiliki 900 kereta besi. Entah berapa jumlah tentaranya. Sedangkan Barak, agaknya tak punya sebuah kereta besi pun (Hak. 4:1-3).

Rasa gentar itu pulalah yang membuat Barak dengan terus terang berkata kepada Debora, ”Jika engkau ikut maju aku pun maju, tetapi jika engkau tidak ikut maju aku pun tidak maju” (Hak. 4:8). Rasa takut itu wajar. Yang tak wajar adalah ketika orang begitu dikuasai ketakutan sehingga lupa potensi diri.

Pengharapan dan Keputusasaan dalam Gereja

Gereja-gereja tertentu bisa mengalami sungguh-sungguh terluka oleh adanya konflik di antara anggota-anggotanya. Orang tidak mau lagi ke gereja, mereka meninggalkan gereja. Akan tetapi, dengan meninggalkan gereja yang berantakan dan perpecah-pecah itu mereka akhirnya lebih menderita kesepian dibanding sebelumnya dan sering merasa mereka berjalan tanpa Yesus lagi.

Pengharapan dan Keputusasaan Tingkat Global

Kehidupan itu selalu kecil, selalu lemah. Tidak pernah berteriak atau menjerit. Kehidupan selalu hanya membutuhkan perlindungan dan bimbingan. Mengatakan ”ya” untuk perlindungan dan bimbingan berarti mau melihat kehidupan yang kecil itu dapat dilahirkan kembali di dalam hati, tubuh, dan pikiran kita, dan di antara banyak orang. Sementara itu, kematian itu selalu mewah, bersinar, selalu besar dan bersuara keras.

Mari Berbusana Pesta

Raja murka. Para undangan itu telah melupakan status mereka sebagai hamba. Melupakan status sebagai hamba berarti juga menganggap remeh Sang Raja sebagai tuan mereka. Bahkan, mereka pun tak mengindahkan undangan kedua. Mereka tak layak lagi hidup di kerajaan itu karena mereka tidak menghargai kelayakan yang dikaruniakan atas mereka. Dan raja menghukum mati mereka.

Hidup dalam Kebenaran Allah

Persoalan keluarga sering berakar pada keinginan hidup berdasarkan kebenaran sendiri-sendiri—istri merasa benar, suami merasa benar, anak merasa benar, orang tua merasa benar! Hasilnya hanya keonaran karena masing-masing merasa benar! Pada titik ini kita perlu meneladani Paulus yang belajar hidup dalam kebenaran Tuhan! Berbeda pendapat itu merupakan hal yang wajar, tetapi setiap anggota keluarga perlu bertanya: Apa sebenarnya pendapat Allah? Setelah mendapatkan, ikutilah pendapat Allah!

Kisah Dua Anak

Tawaran bekerja di kebun anggur ”hari ini” mengingatkan kita pada doa Bapa Kami: ”Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Dalam perumpamaan ini ditunjukkan betapa sang ayah ingin memberi sesuatu yang dapat membuat anaknya mendapatkan sesuatu pada ”hari ini”. Rezeki pada hari ini ditawarkan dengan lembut. Bisa ditolak, tak dianggap penting, diremehkan, tetapi tetap ditawarkan. Bagi yang awalnya tidak mau, tetapi kemudian berubah sikap, tawaran itu masih tetap berlaku. Perumpamaan ini tampaknya hendak menggemakan tema kemurahan hati Allah yang ditawarkan kepada siapa saja, tetapi tidak selalu diterima dengan spontan.