Mendengar, Mengingat, dan Memperhatikan
Allah adalah Pribadi yang mendengar, mengingat, dan memperhatikan.
Allah adalah Pribadi yang mendengar, mengingat, dan memperhatikan.
Selalu ada kesempatan bagi orang untuk mengubah perangainya. Itu jugalah yang terjadi pada Musa. Memang ia masih menggunakan ototnya, tetapi ia tidak lagi merasa perlu membunuh para gembala itu. Dan dengan itu ia tidak perlu melarikan diri lagi dari pembalasan dendam.
Melibatkan Allah—itulah modal terbaik bagi pemimpin. Apalagi jika dia dipanggil untuk memimpin umat Allah.
Allah adalah pribadi yang peduli. Suasana dunia boleh berubah, dan memang harus berubah, tetapi kasih Allah tetap.
Musim memang berganti. Hidup semakin sulit. Namun demikian, kasih Allah tetap.
Kalau kita begitu percaya diri memercayai bahwa Allah menjadi menjadi manusia dalam diri Anak-Nya Yesus Kristus—bahkan mati dan bangkit lagi; itu hanya mungkin terjadi karena Roh Kuduslah yang membuat kita percaya! Dan kalau kita percaya, sejatinya itu pun hanya anugerah!
Hidup dalam pengampunan sungguh memberkati—baik yang diampuni
maupun yang mengampuni.
Kemerdekaan sejati bukanlah kemerdekaan dari kebutuhan fisik saja, tetapi juga kemerdekaan
dari kesalahan yang pernah diperbuat.
Maksud Allah harus diwujudkan dengan cara Allah. Seandainya Yusuf tergoda untuk bunuh diri setelah dia dijual sebagai budak, atau jika Yusuf
jatuh dalam pelukan istri Potifar, maka mimpi Yusuf takkan pernah menjadi kenyataan.
Situasi sulit tidak membuat Yusuf mengasihani dirinya sendiri.
Mengapa bisa begitu? Kemungkinan besar karena Yusuf sungguh merasa dikasihi Allah.