Katak
Tampaknya Firaun sengaja tidak mau menepatinya. Mungkin karena merasa diri sebagai raja. Pada titik ini ia telah mempermainkan Allah Semesta Alam. Ia merasa lebih hebat dari Allah.
Tampaknya Firaun sengaja tidak mau menepatinya. Mungkin karena merasa diri sebagai raja. Pada titik ini ia telah mempermainkan Allah Semesta Alam. Ia merasa lebih hebat dari Allah.
”Ia kerasukan Beelzebul” (Mrk. 3:22). Demikianlah tuduhan para ahli Taurat yang datang dari Yerusalem. Mereka menganggap Yesus kerasukan Setan. Bahkan mereka, dengan wewenang yang dimiliki, menyatakan bahwa Yesus sudah tidak waras lagi. Pernyataan-pernyataan itulah yang sampai ke telinga keluarga besar Yesus.
Orang tua dipanggil untuk menolong anak-anak mereka belajar menjadi pemimpin, yang arif dan bijaksana. Dan itu harus dimulai dari rumah.
Tujuan dari semua karya Allah adalah agar manusia mengetahui bahwa Dialah TUHAN.
Keteladanan menjadi mutlak perlu. Tanpa keteladanan mustahil anak akan meniru prinsip atau nilai yang dipegang oleh orang tuanya.
Jangan sampai beratnya hidup membuat kita lupa bahwa kita adalah milik Allah. Allah telah, sedang, dan akan berkarya bagi kita. Dan itulah makna sejati Nama TUHAN (Yahwe).
Ketika sang penguasa tak mau belajar sejarah, kehancuran bangsa sudah di ambang pintu.
Allah akan menyiapkan tim terbaik bagi pekerjaan-Nya. Logis dipahami karena Allah pasti tak ingin pekerjaan-Nya gagal di tengah jalan.
Kisah pemanggilan Samuel dimulai dengan sebuah kenyataan pahit: ”Pada masa itu firman Tuhan jarang, penglihatan pun langka” (1Sam. 3:1). Mengapa pahit? Sebab, tidak ada komunikasi antara Allah dan umat-Nya.