Dua Setengah Suku Pulang
Di mata Yosua dua setengah itu tetap setia pada janjinya. Mereka tidak meninggalkan saudara sebangsa mereka berjuang sendirian.
Di mata Yosua dua setengah itu tetap setia pada janjinya. Mereka tidak meninggalkan saudara sebangsa mereka berjuang sendirian.
Gereja-gereja tertentu bisa mengalami sungguh-sungguh terluka oleh adanya konflik di antara anggota-anggotanya. Orang tidak mau lagi ke gereja, mereka meninggalkan gereja. Akan tetapi, dengan meninggalkan gereja yang berantakan dan perpecah-pecah itu mereka akhirnya lebih menderita kesepian dibanding sebelumnya dan sering merasa mereka berjalan tanpa Yesus lagi.
TUHAN menepati setiap janji-Nya kepada umat Israel; tidak satu pun yang tidak ditepati-Nya.
Allah sungguh memahami kebutuhan rohani dari orang Israel. Kebutuhan rohani itu bukan kebutuhan sekunder, apalagi tersier.
Allah tampaknya mengizinkan hal itu terjadi agar setiap orang bisa belajar melihat sebuah peristiwa dari sudut pandang Allah yang bermuara pada tindakan pengampunan.
Pemimpin memang harus makan terakhir. Ia harus mendahulukan kepentingan orang yang dipimpinnya. Inilah pola kepemimpinan umat Allah.
Perumpamaan gadis-gadis bijaksana dan gadis-gadis bodoh (Mat. 25:1-13) memperlihatkan kepada kita betapa pentingnya memahami dan merespons sebuah tanggung jawab.
Ketika tidak terlalu persis mengetahui kehendak Allah akan sesuatu hal, kita bisa melakukannya selama itu tidak melanggar norma dan hukum.
Ketika lembu itu mengarahkan dirinya ke Bet-Sames, tahulah orang Filistin bahwa malapetaka yang mereka alami diakibatkan oleh TUHAN, Allah Israel. Pada titik ini Kota Bet-Sames menjadi titik uji.
Mulanya Samuel marah karena permintaan itu berarti mereka tidak lagi mengakui kepemimpinan Allah atas persekutuan dua belas suku itu.