Di Kamis Putih Itu
Marilah kita layangkan mata hati kita pada peristiwa di Kamis Putih itu! Apakah makna di balik peristiwa itu? Cara sederhana untuk melihat makna di balik peristiwa adalah melihat konteks peristiwa itu.
Pada Minggu Palma
Bak pemimpin politik, Yesus masuk Yerusalem. Orang-orang, yang mendengar bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, berhamburan keluar. Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: ”Hosana! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Mrk. 11:9).
Belajar Taat
Ketaatan adalah keniscayaan, khususnya dalam hubungan antarmanusia. Tanpa ketaatan yang ada hanyalah kekacauan semata.
Ia Mau, Supaya Kita Hidup di Dalamnya
Paulus hendak mengingatkan warga jemaat di Efesus—juga setiap orang yang membaca suratnya pada masa kini—bahwa mereka adalah ciptaan Allah. Alasan Paulus menyatakan semuanya ini adalah karena manusia cenderung alpa dengan kenyataan bahwa mereka itu ciptaan Allah. Segala persoalan dunia ini, jika kita telusuri bersumber pada kenyataan bahwa manusia sering lupa bahwa mereka hanya ciptaan.
Kangen Rumah
Kangen. Mungkin perasaan itulah yang menguasai Yesus kala pergi ke Yerusalem. Bagi orang Israel, Yerusalem bukan sembarang kota. Yerusalem berbeda dengan kota-kota lain karena Bait Allah terletak di sana. Kalau kita perhatikan mazmur-mazmur, maka banyak sekali mazmur ziarah yang dinyanyikan orang Israel sewaktu mengunjungi Yerusalem.
Memikirkan Apa yang Dipikirkan Allah
”Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Bagaimanakah perasaan Saudara saat mendengar kalimat ini? Keras bukan? Mungkin ada di antara kita yang merasa tak enak hati sendiri, merinding, karena tahu bahwa kalimat ini tidak ditujukan kepada Iblis, tetapi kepada Simon Petrus, salah seorang murid kesayangan.
Dipimpin Roh Allah
”Sesungguhnya Aku membuat perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersamamu: segala burung, ternak dan binatang liar yang bersamamu, yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. Aku menetapkan perjanjian-Ku dengan kamu bahwa sejak ini segala makhluk tidak akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” (Kej. 9:9-11).
Koyakkan Hatimu!
Saat merayakan Rabu Abu, 14 Februari 2024, kita diingatkan bahwa kita memang abu. Manusia adalah debu tanah yang karena perkenan Allah enjadi makhluk mulia. Dari bobotnya saja, dibanding kerikil pun, abu tak seberapa. Apalagi jika dibanding gunung.
Memuliakan Kristus
Pada Minggu Transfigurasi ini marilah kita sungguh-sungguh bertanya, ”Apakah kita telah memuliakan Allah?”