Kesaksian Palsu
Berhadapan dengan ketulusan dan keluguan, segala kebohongan cenderung goyah. Kejahatan tak bisa disembunyikan dengan sempurna.
Berhadapan dengan ketulusan dan keluguan, segala kebohongan cenderung goyah. Kejahatan tak bisa disembunyikan dengan sempurna.
Banyak saksi yang dipanggil untuk memberi kesaksian palsu terhadap Yesus, tetapi kesaksian mereka bertentangan satu sama lain
Di Taman Getsemani, ada seorang murid yang berupaya mengikuti gurunya dari jauh. Demikianlah kesetiaan Petrus kepada gurunya.
Orang muda itu pun akhirnya lari agar tidak ditangkap. Dengan demikian, nubuat ”semua orang meninggalkan-Nya” juga digenapi.
Yesus mengeluh (Luk. 13:31-35) Tak mudah memahaminya. Tak hanya kita, manusia Indonesia abad XXI, orang-orang pada masa Yesus pun sulit menerima kenyataan itu. Bagi bangsa Yunani, salah satu sifat Allah adalah apatheia, yang berartiketidakmampuan secara total untuk merasakan emosi apa pun. Pathos berarti penderitaan. Apathos atau apatheia berarti bahwa Allah, Read more…
Meski bukan penjahat, Yesus memahami memang sudah seharusnya. Itu pulalah yang tertulis dalam Alkitab.
Ciuman Yudas menjadi tanda penangkapan, serentak dengan itu, ciuman Yudas telah menjadi tanda pengkhianatan.
Ungkapan ”cukuplah” membuat Sang Guru tidak melarikan diri dari penderitaan, tetapi menghadapi itu sebagai panggilan yang harus dituntaskan.
Teguran itu memang disiapkan Yesus untuk mempersiapkan diri Petrus. Ya, roh memang berniat baik, tetapi tabiat manusia lemah.
“Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.”