Natal: Ceritakanlah Tuhan!
Allah berkenan turun menjadi manusia agar manusia merasakan persekutuan dengan-Nya dan mengenal penciptanya.
Allah berkenan turun menjadi manusia agar manusia merasakan persekutuan dengan-Nya dan mengenal penciptanya.
Allah adalah Pribadi yang menghargai pribadi lainnya. Meski Dia Mahakuasa, itu berarti semua ciptaan harus takluk kepada-Nya, pada narasi Lukas kita menyaksikan bagaimana Allah merasa perlu menyuruh Gabriel untuk meminta izin Maria.
”Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes” (Yoh. 1:6). Yohanes adalah utusan Allah. Bicara soal utus-mengutus, yang mengutus pasti lebih tinggi dan penting kedudukannya ketimbang yang diutus.
”Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (Mrk. 1:1) Demikianlah prolog Injil Markus. Berbeda dengan penginjil lain—yang langsung bicara soal Yesus—Markus menceritakan tentang pribadi lain. Orang itu adalah Yohanes Pembaptis.
”Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang…” (Mrk. 13:35). Demikian kesimpulan Yesus yang disampaikan kepada para murid-Nya. Kesimpulan-Nya itu—menembus batas waktu dan ruang—berkumandang hingga kini.
”Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama Dia, Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya” (Mat. 25:31-33).
Apakah yang ada di benak Barak ketika Debora menyuruhnya untuk memimpin sepuluh ribu bani Naftali dan Zebulon melawan Sisera? Mungkin satu kata ini: gentar. Sisera bukan sembarang panglima. Dia memiliki 900 kereta besi. Entah berapa jumlah tentaranya. Sedangkan Barak, agaknya tak punya sebuah kereta besi pun (Hak. 4:1-3).
Rasa gentar itu pulalah yang membuat Barak dengan terus terang berkata kepada Debora, ”Jika engkau ikut maju aku pun maju, tetapi jika engkau tidak ikut maju aku pun tidak maju” (Hak. 4:8). Rasa takut itu wajar. Yang tak wajar adalah ketika orang begitu dikuasai ketakutan sehingga lupa potensi diri.
Perumpamaan gadis-gadis bijaksana dan gadis-gadis bodoh (Mat. 25:1-13) memperlihatkan kepada kita betapa pentingnya memahami dan merespons sebuah tanggung jawab.
Kata-kata Yesus mengenai ahli Taurat dan orang Farisi keras. Namun, bukan tanpa dasar. Kata-kata-Nya berdasar pada kenyataan bahwa ahli Taurat dan orang Farisi sibuk mengajarkan Taurat, tetapi tidak melakukannya. Mereka jago ngomong, sayangnya kopong.
Integritas merupakan modal utama seorang pemimpin. Ironisnya, itulah yang paling jarang dimiliki para pemimpin. Semakin tinggi level kepemimpinan, semakin besarlah godaan terhadap integritas pemimpin. Godaan itu bisa menimpa siapa saja. Kuasa, mengutip Lord Acton, memang cenderung membuat orang menyimpang.