Hari Sabat untuk Manusia
Sabat adalah agar manusia sungguh-sungguh berhenti dari pekerjaan rutinnya agar mereka dapat beristirahat, sehingga mendapatkan kesegaran baru untuk bekerja pada minggu yang baru.
Sabat adalah agar manusia sungguh-sungguh berhenti dari pekerjaan rutinnya agar mereka dapat beristirahat, sehingga mendapatkan kesegaran baru untuk bekerja pada minggu yang baru.
Konsep baru perlu disikapi dengan kerangka berpikir baru. Karena itu, konsep Kerajaan Allah yang dibawa Yesus harus ditanggapi dengan paradigma baru.
Berpuasa semestinya tidak sekadar enggak makan dan minum atau sekadar ritual. Lebih dari itu, persekutuan yang intens dengan Allah.
Yesus menyatakan bahwa Ia hadir memang untuk orang-orang berdosa. Ya, orang sakitlah yang perlu tabib.
Ketika Ia lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata kepadanya, ’Ikutlah Aku!’ Lewi pun bangkit lalu mengikuti Dia.
Dalam seluruh Alkitab, kisah orang lumpuh berjalan hanya ada di Perjanjian Baru. Nabi Yesaya pernah menubuatkannya. Artinya memang belum terjadi.
”Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah” (Mrk. 12:34). Demikianlah tanggapan Yesus atas jawaban ahli Taurat itu. Apa artinya frasa ini? Dalam BIMK tertera: ”Engkau sudah hampir menjadi anggota umat Allah.” Ada pujian di sana. Namun demikian, hampir menjadi anggota umat Allah belumlah menjadi umat Allah. Memang Beda Ahli Taurat yang Read more
Mungkin juga mantan penderita penyakit kulit yang menajiskan itu takjub menyaksikan tindakan Yesus yang mengulurkan tangan-Nya, menyentuhnya, dan berkata kepadanya, ”Aku mau, jadilah tahir”
Ia mengimani bahwa Yesus mampu menolong. Namun demikian, imannya itu tidak membuat dia memaksa Yesus. Ia ingin sekali tahir.
Yesus memahami alasan kedatangan-Nya. Ia hadir untuk semua orang. Itu berarti juga semua kota. Ya, Injil-Nya memang untuk semua.
Mencari Yesus berarti menjadikan Yesus sebagai pusat hidup kita. Yesuslah yang menjadi pusat pikiran dan tindakan kita. Dengan kata lain Yesuslah yang kita agungkan dalam hidup kita.
Yesus Orang Nazaret merasa perlu bangun lebih awal, waktu hari masih gelap, ketika banyak orang masih terlelap untuk bercakap-cakap dengan Bapa.