Pencurian Ternak
Si pencuri pastilah tidak lagi memiliki rasa hormat kepada sang pemilik ternak. Sejatinya ia juga tidak lagi memiliki rasa hormat Allah, selaku Pemilik segala sesuatu.
Si pencuri pastilah tidak lagi memiliki rasa hormat kepada sang pemilik ternak. Sejatinya ia juga tidak lagi memiliki rasa hormat Allah, selaku Pemilik segala sesuatu.
”Tuhan ada di sana. Ia menyertai kita. Baik di kala suka, apalagi di kala duka.” Apa pun keberadaan kita sekarang ini, apa pun yang kita rasakan, percayalah bahwa Allah ada.
Sang pemilik tidak boleh lepas tangan atas ternak miliknya. Dengan kata lain, sang pemilik tidak hanya berkewajiban memberi makan, tetapi juga menjaga tingkah laku ternak miliknya.
Setiap orang tidak hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri atau anggota keluarganya, tetapi juga turut bertanggung jawab atas keselamatan bukan hanya manusia, tetapi juga ternak milik orang lain.
Hewan tak bisa dituntut pertanggungjawaban sendirian karena tidak berakal budi. Oleh karena itu, manusialah yang harus bertanggung jawab atau sepak terjang hewan miliknya.
Janin adalah makhluk hidup. Masalah janin dalam kandungan akibat kelalaian orang lain layak diperhitungkan. Allah tidak mendiamkannya. Mengapa? Sebab anak adalah milik pusaka Allah yang dititipkan kepada sebuah keluarga. Janin pun dihargai Allah.
Manusia memerlukan pertobatan dan dunia membutuhkan terang Tuhan sehingga kabar baik sudah selayaknya diserukan dan Injil Kristus perlu dibagikan.
Hari ini ada yang berbeda dari ibadah Minggu yang biasa saya hadiri. Bukan saja karena pembawa firman menggunakan Bahasa Inggris, sehingga saya harus fokus menangkap kalimat yang diucapkan; tetapi karena ia mengibaratkan hal memberi sedekah, hal berdoa, dan berpuasa di Read more…
Budak boleh dihukum, tetapi tak boleh diambil nyawanya. Sebab nyawa adalah milik Allah. Hanya Dialah yang boleh menghentikan umur seseorang.
Penculikan bermuara pada perdagangan orang yang menurunkan harkat manusia dari pribadi merdeka menjadi budak. Allah tentu saja membenci perbudakan.