Menghormati Orang Tua
Allah sungguh membenci orang yang memukul dan mengutuk orang tuanya. Bagi orang-orang macam begini, hukuman Allah adalah kematian.
Allah sungguh membenci orang yang memukul dan mengutuk orang tuanya. Bagi orang-orang macam begini, hukuman Allah adalah kematian.
Yesus melihat. Guru dari Nazaret itu tidak menutup mata. Mata-Nya senantiasa terbuka. Keterbukaan mata itulah yang membuat Dia mampu memahami keadaan orang banyak itu.
Jangan membunuh! Mengambil nyawa manusia merupakan prerogatif Allah. Tak seorang pun boleh mengambil nyawa sesamanya. Nyawa manusia adalah pemberian Allah semata dan hanya Alllah yang berhak mengambilnya.
Allah menginginkan kemerdekaan umat-Nya. Ia tidak ingin ada umat-Nya yang menjadi budak selama-lamanya. Pada dasarnya Allah memang tidak menghendaki perbudakan.
Allah Israel berkenan akan kesederhanaan. Yang penting juga adalah sikap takut dan hormat ketika menghadap Allah. Prinsip-prinsip ini jugalah yang perlu kita tularkan kepada generasi muda.
Allah jelas menginginkan bahwa hubungan antara Dia dan umat-Nya itu eksklusif—tidak ada pihak ketiga. Dan karena itu, menjadi tindakan logis dan suatu keniscayaan jika umat Israel hanya memfokuskan dirinya hanya untuk Allah.
Tuhan mengasihimu. Dia ingin menyapa dirimu secara pribadi. Jangan takut! Yang penting hiduplah sebagai anak-anak Allah! Kekudusan adalah harga mati!
Sejatinya melampiaskan semua yang diinginkan hati berarti menjadikan hati sebagai Tuan mereka dan merusak hubungan dengan sesama.
Tak mudah memang menjadi saksi. Dan keluarga perlu menjadi tempat di mana anak-anak belajar untuk menjadi saksi.
Ada yang mati di tengah pesta itu. Itulah peristiwa yang dicatat penulis Injil Markus. Pestanya memang bukan pesta kematian. Pestanya adalah pesta ulang tahun. Yang berulang tahun pun bukan sembarang orang. Ini adalah pesta ulang tahun seorang raja.