Orang-orang Jahat
Petrus merasa perlu menjelaskan secara rinci jenis kejahatan orang-orang jahat itu.
Petrus merasa perlu menjelaskan secara rinci jenis kejahatan orang-orang jahat itu.
Petrus beralih kepada kisah Lot, saksi hidup pemusnahan Sodom dan Gomora.
Pada waktu malam menjelang ditangkap, Yesus makan bersama dengan dua belas murid. ”Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikan kepada mereka, kata-Nya: ”Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk. 22:19).
Penting bagi kita untuk hidup kudus di hadapan Allah dan tetap memelihara keselamatan yang telah dianugerahkan bagi kita.
Sebuah peringatan yang berpuncak pada bukit Golgota, ketika tubuh Sang Penebus disalib menjadi penebus dosa.
Allah itu adil. Tak pandang bulu. Hukum-Nya tidak diskriminatif. Mungkin itulah yang dimaksudkan Petrus ketika ia bercerita bahwa Allah pun tidak mengecualikan para malaikat dari hukuman. Yang melanggar pasti akan dihukum.
Keinginan dipuaskan secara akal budi sejujurnya adalah ketidakmampuan manusia untuk menguasai akal budinya sendiri.
Bagaimana mungkin Allah menjadi manusia? Kalau Dia adalah Allah, kok bisa mati?
”Sesungguhnya, inilah Allah kita. Kita menanti-nantikan Dia, dan Ia telah menyelamatkan kita. supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita atas pertolongan-Nya!” (Yes. 25:9).
Para murid tidak melakukan tindakan apa pun. Lukas mencatat: ”Pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat (Luk. 23:56a). Yang dimaksudkan dengan mereka di sini adalah para perempuan yang datang bersama Yesus dari Galilea, yang ikut serta menguburkan jazad Sang Guru. Ya, kerinduan untuk merawat tubuh Yesus secara layak terjeda oleh Sabat.