Allah Menyediakan
Abraham tidak hanya diminta Allah untuk melepaskan masa lalu, tetapi juga masa depan. Meski taruhannya adalah nyawa anaknya sendiri.
Abraham tidak hanya diminta Allah untuk melepaskan masa lalu, tetapi juga masa depan. Meski taruhannya adalah nyawa anaknya sendiri.
“Meski Sara pernah menertawakan Allah, Allah tetap menjalankan kehendak-Nya: membuat Sara tertawa bahagia.”
Rasanya waktu semakin hari semakin mengancam dan menjadi musuh besar kita. Dalam masyarakat kita tampaknya waktu lebih memperbudak daripada uang.
“Dalam doa bersama dengan anak-anak baiklah kita juga mendoakan orang lain, bisa juga teman-teman dari anak-anak kita. Hal itu akan menumbuhkan tak hanya simpati, tetapi empati bagi anak-anak kita.”
“Akal budi memang pemberian Allah. Namun, ketika akal budi membuat kita ragu akan Allah—bahkan tak lagi percaya kepada Allah—kita harus menolaknya.”
“Percaya bukanlah barang yang sudah jadi dari sananya. Kepercayaan dalam diri seseorang merupakan proses. Iman sangat berkait erat dengan pertumbuhan dan tidak sekali jadi. Dan setiap orang perlu belajar untuk percaya.”
“Memang akal budi merupakan karunia Allah. Akan tetapi, memercayakan diri sepenuhnya pada
akal budi bukanlah tindakan iman. Bahkan, menyepelekan Allah.”
“Paulus berkesimpulan bahwa Allah menerima Abraham sebagai orang yang menyenangkan hati-Nya. Mengapa? Karena ia memahami posisinya sebagai hamba. Dan hamba sejati selalu berusaha menyenangkan hati tuannya!”
”Mengertikah Tuan apa yang Tuan baca itu?” (Kis. 8:30). Demikianlah sapaan Filipus kepada seorang asing yang sedang membaca Kitab Yesaya. Orang itu bukan sembarang orang. Ia pejabat istana, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia.