Pelaku Firman
Aneh rasanya jika manusia, yang menabalkan dirinya hamba Allah, ternyata tidak melakukan kehendak Allah.
Aneh rasanya jika manusia, yang menabalkan dirinya hamba Allah, ternyata tidak melakukan kehendak Allah.
Yesus menjalani hidup dalam kepenuhan Allah yang Ia alami dalam keheningan. Ia sungguh-sungguh menyatu dengan orang banyak sehingga ke mana pun Ia pergi, kehidupan dipancarkan dari pada-Nya. Jika kita hidup dengan mengalami kehadiran Allah di dalam keheningan dan di dalam komunitas bersama orang lain, tanpa kesukaran berarti, kita bisa di sana, melayani orang lain.
Ada yang dibuang dan ada yang diterima. Tidak ada kekosongan. Sebab, kekosongan hanya akan memberi ruang bagi yang sudah dibuang itu muncul kembali.
Ingatlah hal ini: Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.
Janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, turun dari Bapa.
”Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (Mrk. 1:1) Demikianlah prolog Injil Markus. Berbeda dengan penginjil lain—yang langsung bicara soal Yesus—Markus menceritakan tentang pribadi lain. Orang itu adalah Yohanes Pembaptis.
Namun, tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa.
Apabila seseorang dicobai, janganlah ia berkata, ’Aku sedang dicobai oleh Allah!’ Sebab, Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.
Bertahan dalam pencobaan. Itulah yang dinasihatkan Yakobus kepada pembaca suratnya. Bertahan artinya tabah. Tidak berhenti di tengah jalan.
Sabda-Mu Abadi | 6 Desember 2023 | Yak. 1:11 ”Sebab, matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.” Yang Read more