Orang Kedua di Mesir
Situasi sulit tidak membuat Yusuf mengasihani dirinya sendiri.
Mengapa bisa begitu? Kemungkinan besar karena Yusuf sungguh merasa dikasihi Allah.
Situasi sulit tidak membuat Yusuf mengasihani dirinya sendiri.
Mengapa bisa begitu? Kemungkinan besar karena Yusuf sungguh merasa dikasihi Allah.
Mimpi Firaun memperlihatkan kepada kita bahwa Allah adalah pengendali tunggal alam semesta. Dia berkarya dengan cara yang cermat—menjalin kisah satu dengan yang lainnya—untuk mewujudkan kehendak-Nya.
Kisah Yusuf di penjara juga memperlihatkan kepada kita, orang percaya abad XXI, untuk terus memercayakan diri kepada Allah—seburuk apa pun situasi kita—serta melakukan tugas sebaik-baiknya.
Kaget. Bisa jadi itulah yang dirasakan para murid dan orang-orang yang berada di sekitar TKP (Tempat Kejadian Perkara).
Bagi Yusuf, hidup di dalam penjara, selama itu diberkati Allah, lebih baik ketimbang hidup di luar penjara
namun harus berlaku serong. Dan Yusuf berani mengambil risiko.
Manusia dan budaya manusia memang terbatas sifatnya. Namun,
selalu penting dan bermakna bagi setiap orang untuk tetap takut akan Allah dan tidak mengandalkan dirinya sendiri.
Yusuf adalah pribadi yang taat. Ketika Yakub, ayahnya, menyuruh dia untuk melihat keadaan saudara-saudaranya, Yusuf melaksanakan perintah itu tanpa syarat. Meski mengetahui kebencian saudara-saudaranya terhadap dirinya, Yusuf tetap taat.
Ketika Yesus dibaptis, ada suara yang berkata kepada-Nya, ”Engkaulah yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan” (Mrk. 1:11). Suara inilah yang harus kita dengar juga karena Yesus datang untuk memberi tahu kita bahwa kita sama dikasihi-Nya seperti Dia.
Orang tua perlu berhati-hati dalam bersikap, bertindak, juga berbicara! Salah sikap, tindak, dan bicara hanya
akan menyakiti anak-anaknya, bahkan bisa membuat anak-anak saling benci!